Asuhan Keperawatan Konstipasi

Ketika mengevaluasi pasien dengan konstipasi harus dipahami dengan baik gejalanya. Penting untuk memperjelas apakah pasien mengeluhkan frekuensi BAB. Riwayat mengejan berlebihan berusaha “menarik” tinja, perasaan penuh di dubur merupakan gejala-gejala dari disfungsi otot dasar panggul. Kronik atau tidaknya gejala juga penting untuk ditanyakan. Pasein juga mesti menjelaskan perilaku BABnya, waktu dan lama yang dibutuhkan. Riwayat diet (khususnya serat), konsumsi serat dan depresi (gangguan emosional) juga perlu ditanyakan.

Umumnya pasien dengan konstipasi biasanya pemeriksaan fisik akan normal saja. Tanda penyakit sistemik seperti diabetes mellitus atau hipotiroidisme harus tetap dicari. Perut yang buncit atau massa yang teraba di perut dapat mengarah pada keganasan.

Pemeriksaan colok dubur dapat mendeteksi darah, massa di rektum, celah di anus, tonus sfingter yang abnormal atau prolaps rectum. Sensitifitas di daerah sekitar dubur juga perlu diperiksa.

Pemeriksan laboratorium awal yang dibutuhkan adalah darah rutin, kimia darah, fungsi tiroid dan serum kalsium. Pemeriksaan selanjutnya bergantung pada umur pasien, gejala dan ada tidaknya perdarahan. Pada pasien yang masih muda dapat langsung ditangani terlebih dahulu dengan penambahan serat dalam diet. Pada kasus pasien berusia lanjut dengan perubahan perilaku BAB yang baru, hilangnya berat badan atau adanya bukti perdarahan dari rektum membutuhkan pemeriksaan lanjutan dengan sigmoidoskopi fleksibel dan kolonskopi untuk memeriksa apakah ada massa/tumor atau tidak.

Kriteria diagnostik konstipasi kronik

Jika terdapat dua atau lebih gejala berikut ini :

- Minimal 12 minggu atau lebih harus berturut-turut dalam waktu 12 bulan
- Tinja padat/keras dalam > 25% saat BAB
- Perasaan tidak puas setelah BAB sebanyak 25%
- Perasaan seperti ada yang tertahan di daerah anorektal sebanyak >25%
- Manuver manual untuk membantu keluarnya tinja sebanyak 25%
- BAB kurang dari tiga kali seminggu

Pembagian Konstipasi

Konstipasi primer Konstipasi normal transit (konstipasi fungsional) Jenis konstipasi tersering. Tinja melewati usus dengan kecepetan yang normal. Kesulitannya adalah saat mengeluarkan dan tinja yang keras. Pasien meraksana kembung dan nyeri atau rasa tidak nyaman di perut juga bisa terjadi stress pasikososisal.
  Konstipasi transit lambat Biasanya terjadi pada perempuan muda yang memiliki kebiasaan BAB yang jarang. Biasanya pada keterlambatan yang ringan dapat teratasi dnegan diet tinggi serat , namun tidak bagi yang sudah parah bahkan laksatif pun tidak akan membantu
  Disfungsi anorektal Termasuk didalamnya adalah disnergia otot dasar pelvic, disfungsi otot dasar perlvik
Konstipasi sekunder - Konstipasi jenis ini diakibatkan kondisi atau penyakit sistemik lain seperti penyakit endokrin dan metabolic, kelainan neirologi, kondisi psikologis, kehamilan dan abnormalitas struktur lainnya.- Dapat pula dikaitkan dengan penggunaan obat seperti antacid, antikolinergik, antidepresan, antihistamin, ca-channel blocker, diuretic, zat besi, narkotik, opiod, psikotropikadll.

Terapi Konstipasi

Terapi non farmakologi - Latihan BABHendaknya BAB pada waktu yang tepat sama setiap harinya. Waktu yang optimal untuk BAB adalah di pagi hari setelah berjlaan dan sarapan sehingga saat aktivitas kolon sangat  tinggi. Pasien juga disaranakan untuk tidak mengedan berlebihan.

- Tingkatkan asupan serta dan cairan
Rekomendasi jumlah asupan setiap harinya adalah 20-25 gram. Jumlah hidasi yang cukup amat penting untuk menjaga pergerakan usus.
- Meningkatkan aktifitas fisik regular
Suatu studi khorot menyebutkan, latihan fisik 2-5 kali per minggu menurunkan resiko konstipasi hingga 35%.

Terapi farmakologi LAKSATIF (Pencahar)- Bulk laxative

Laksative yang mengandung psillium, pectin, plantago atau selulose. Jenis laksative ini menyerap air sehingga melunakkan tinja. Paling bermanfaat diberikan kepada konstipasi fungsional namun tidak akan menolong pada kasus konstipasi trasit lambat dan disfungsi anorektal. Efeknya menimbulkan kembung dan produksi gas berlebih.

- Laksative osmotik

Laksative yang mengandung garam (magnesium hidroksida, sodium bifosfat) yang akan meningkatkan sekresi air ke dalam usus. Juga bisa mengandung latulosa, sorbitol, manitol, dan pliotilen glikol (PEG).

- Laksative Stimulan

Laksative stimulan meningkatkan pergerakan usus dan sekresi ke dalam usus

- Agen Prokinetik

Tegaserod, kolsisin dan misoprostol akan mempercepat waktu transit tinja dan meningkatkan frekuensi BAB.

Operasi Reaksi atau pemotongan kolon secara total dan pemotongan bagian ileorektum kadang-kadang diperlukan pada yang konstipasi berulang pada pasien konstipasi transit tanpa disfungsi anorektal yang gagal menjalani terapi faramologi maupun non farmakologi.Komplikasi setelah operasi :

-  Gangguan pada usus kecil

- Diare

- Inkontinensi

 


=====================================

>>> Kapsul Herbal Lancar BAB Membantu Mengatasi Gangguan Susah Buang Air Besar (BAB) atau Sembelit / Konstipasi, KLIK DETAIL DISINI!
=====================================


This entry was posted in Konstipasi, Penyebab Konstipasi and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>